REMEMBER :
When you’ve done read andlearn from it, did you still remember your mother?
sumber: anonim (from site:www.sebalai.blogspot.com)
Samar kuingat janjiku untuk menemuinya di tepi al Kautsar
Masih setiakah diriku?
Di tepi telaga kekasih setia mencinta sebut-sebut namaku dan namamu, cemaskah?
Berpeluh tubuh mengingatimu, tak pelak memupus harapku menantimu menemuinya
Tegakah kau memberati langkahku menuju telaga itu?
Meragu kuingat pernah terucap janji menemuinya di tepi al Kautsar o adakah kasih itu tersisa untukku?
Demi masa aku lalai dalam hingar bingar terang yang menyilaukan tatapanku kerap nanar dan enggan melawan hingga jiwaku kembara
Dan dahagaku akan fatamorgana di gurun panas tak berkesudahan, sudikah dirinya mengusap debuku dan membasuhnya dengan sejuk air telaga?
Tunggu….tunggulah aku di tepi al Kautsar, demi masa akan kutemui kekasihku disana bersama dirimu yang tersumpah padaku satu mitsaqon gholizo,
tunggulah aku di tepi al Kautsar dan saljukan panasku dengan syafa’atmu saja.
Posted in Poems
oleh: Rendra
Bermukimlah di peti mati dan jangan menatap lagi
aku terpaksa berkhianat dan cintamu jadi siksa
keengganan-kehilangan jadi ketakutan bangsawan
sangsi yang ini mendorong ingin segala punya
dan jadilah hatiku asing pada pangkalan dan persinggahan
Berilah aku kenikmatan atau keedanan dan bukan cinta
cinta memang kudamba tapi jadi asing di dekatnya
begitu agung ia, mungkin tak kukenal bila singgah di dada
dan oleh luka tak kupercaya lagi kehadirannya
Terkutuklah saat-saat aku sadari diri begini
tampak seolah tindakku berbunga dosa
tindak yang di sisi hatiku sungguh bening
(percayalah! matamu ‘kan mengutuk segala dusta)
Tolonglah memupus lari sangsiku
(demi cintamu yang tidak waras kepadaku!)
Pendamlah cintamu dalam perbuatan edan
atau sekali-kali berkhianatlah kepadaku
atau bermukimlah di peti mati dan jangan nangis lagi
atau bunuh aku dengan tikaman mesra duka cinta
dan segalanya akan pupus begitu
bukankah itu mesra, sayangku?
*dikutip dari Rendra, Empat Kumpulan Sajak, Pustaka Jaya, Cet. ketujuh, 1994.
Posted in Poems
Tengah kudirikan raka’at demi raka’at yang kian hari
terasa menghampa
ketika gerimis itu menderas
hati tersiram basah hidayah-Mu,
terdesak kerinduan akan cinta-Mu
Duhai, Zat yang Maha
Jangan biarkan hamba menjadi
sebutir garam
di samudera kehidupan
Tak berarti apa-apa
Entah gundah apalagi yang kan menjumpa esok
Masih tangan ini berusaha menyusun
Shaf demi shaf
memperjuangkan sebuah jalan
sementara anak sungai
membelah pipi
menyapu kotoran hati
Seijin-Mu ya Al Ghoffar
terpacu selaraskan getaran hati
dengan melodi tasbih jagad raya
Tertatih menapaki jalan mendaki
nuju singgasana benderang-Mu
saat mengata, melihat, mendengar, mencium dan
merasa
keMaha-an-Mu.
Jakarta, 1995. Catatan saku seorang mhs feui.
Posted in Poems
Allah ya Robbi, kuatkan azzam kami
agar tak lupa sujudkan hati
tiap saat nafas masih berhembus
kasihi kami yang kerap alpa
bahkan kadang dustakan nikmat
Allah ya Robbi, tlah Kau titipkan
kunci surga pada kami
tolong kami menjaganya hingga kelak
berjamaah kami menghadap-Mu
tiba di gerbang jannah-Mu
Allah ya Robbi, beri kami rizki
berlimpah lagi berkah
agar kami dapat berbagi syukur
dengan tiap Hamba-Mu yang dhuafa
dengan yatim piatu kecintaan Nabi
11.09.2008